Energi Terbarukan dari Limbah Pisang

Energi Terbarukan dari Limbah Pisang

Foto: istimewa

Pemenuhan kebutuhan bahan bakar secara mandiri dan berkelanjutan berbasiskan bahan baku dari sumber daya alam lokal.

Biogas diharapkan menjadi sumber energi masa depan yang dapat berperan sebagai pengganti bahan bakar fosil sehingga bisa menurunkan beban impor BBM, mereduksi gas rumah kaca di atmosfer, dan mengurangi bahan pencemar lingkungan.

Menyitir data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), tahun ini proyeksi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Tanah Air sekitar 1,62 juta barel per hari (bph), sementara produksi BBM dalam negeri sekitar 600 ribu bph.

Untuk menutup defisit itu, otomatis pemerintah masih harus mengimpor. Adapun upaya mengurangi kebergantungan BBM dari negera lain, pemerintah terus mendorong kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) meningkatkan produksi minyak dalam negeri.

Namun, mafhum diketahui untuk menemukan cadangan baru itu bukan perkara gampang dan risikonya sangat besar, mengingat Indonesia Petroleum Association (IPA) menyatakan lokasi pengeboran minyak dan gas 75 persen berada di laut dalam.

Sebagai contoh, sebanyak 12 KKKS menginvestasikan dana 1,9 miliar dollar AS (sekitar 19 triliun rupiah) untuk mengebor minyak di laut, tapi tidak ada kepastian hasilnya. Artinya, jika masih mengandalkan produksi minyak dalam negeri, impor BBM tidak akan terelakan lagi.

Oleh sebab itu, kebijakan menggantungkan energi fosil seyogianya hanya suatu transformasi menuju energi baru terbarukan pada masa depan. Di antara alternatif energi baru terbarukan yang teknologinya terus diteliti dan dikembangkan para ilmuwan adalah biogas.

“Teknologi tepat guna biogas sesuai untuk daerah perdesaan karena melimpahnya ketersediaan limbah organik yang dapat diolah sedemikian rupa menjadi energi baru terbarukan,” perekayasa dari Pusat Teknologi Lingkungan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Wiharja, Jumat (27/06).

Limbah itu di antaranya, kotoran ternak, sampah domestik, sisa panen hortikultura, dan sisa produksi (tahu, tempe, dan tapioka). Dengan kata lain, hampir semua limbah yang mengandung unsur organik dapat diolah di dalam alat kedap udara (anaerob) bernama digester menjadi energi biogas.

36 juta ton limbah

Uniknya, peneliti Direktorat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, Arif Hidayat, mengembangkan teknologi biogas dari limbah tanaman pisang, seperti bonggol, batang, pelepah daun, dan kulit pisang.

Menurut Arif, secara kuantitas, limbah tanaman pisang itu tersedia melimpah di hampir seluruh wilayah Indonesia, bahkan di daerah terpencil sekalipun sepanjang tahun. Hal itu mengingat kondisi iklim tropis negeri ini yang merata, cocok untuk pertumbuhan tanaman pisang yang memiliki umur relatif pendek.

Selain itu, tanaman pisang merupakan tanaman semusim yang menghasilkan jumlah limbah yang besar. “Setiap 1 kilogram (kg) buah pisang menghasilkan limbah dari bagian yang tidak termanfaatkan sebanyak 6 kali lipatnya,” tandas dia, Kamis lalu.

Dari perhitungan kasar di atas kertas tersebut, jika menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi buang pisang Indonesia lebih dari 6 juta ton per tahun, maka terdapat 36 juta ton limbah tanaman pisang.

Kata Arif, agar limbah tanaman pisang tidak berpotensi mencemari lingkungan, seluruh bagian pisang yang mengandung bahan lignoselulosa ini memungkinkan dikonversi menjadi biogas secara fermentasi.

Proses konversi limbah tanaman pisang di dalam digester menjadi biogas terjadi proses degradasi terhadap bahan lignoselulosa yang terkandung pada limbah tanaman pisang.

Lignoselulosa adalah komponen organik yang terdiri dari tiga tipe polimer organik, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin.

Kandungan dari ketiga komponen tersebut bervariasi, bergantung dari jenis bahan organiknya. Komponen ini dapat menghasilkan produk bermanfaat seperti gula dari proses fermentasi, bahan kimia dan bahan bakar cair.

Proses Konversi

Selama proses konversi biogas, bahan-bahan lignoselulosa yang terkandung dalam tanaman pisang didegradasi melalui empat tahap berurutan, yaitu hydrolysis, acidogenesis, acetogenesis, dan methanogenesis (lihat grafis).

Proses degradasi lignoselulosa dilakukan pada kondisi anaerob dengan bantuan suatu konsorsium mikroorganisme yang diperoleh dari kotoran sapi. “Bahan lignoselulosa yang terkandung dalam tanaman pisang merupakan makanan bagi mikroba. Kemudian, mikroba akan menghasilkan biogas sebagai hasil proses metabolisme,” jelas Arif.

Wiharja menganalogikan proses degradasi lignoselulosa di dalam digester seperti proses pencernaan makanan di dalam perut manusia. “Di dalam digister mirip dengan perut manusia, di sana banyak bakteri pengurai bahan-bahan organik,” jelasnya.

Di dalam digester, lanjut dia, senyawa organik yang mengandung unsur karbon, hidrogen , oksigen, dan nitrogen (CHON) diurai menjadi rantai yang lebih sederhana, seperti metana (CH4). Adapun komposisi biogas yang diolah dari digester secara umum memiliki konsentrasi metana, karbondioksida, nitrogen, hidrogen, oksigen, dan uap air.

Menurut Arif, proses degradasi lignoselulosa dalam digester menghasilkan biogas dengan komposisi metana besarnya 60 persen hingga 70 persen, sedangkan sisanya berupa gas karbondioksida, nitrogen, hidrogen, dan hidrogen sulfida.

Komposisi tersebut, menurut Wiharja, siap digunakan sebagai bahan bakar kompor rumah tangga. “Kosentrasi metana 50 persen bisa langsung digunakan untuk menghidupkan kompor,” kata Wiharja.

Namun, lanjut dia, bila biogas digunakan sebagai sumber energi mesin berbahan bakar gas (gas engine), konsentrasi selain metana harus dikurangi dengan alat absorbers, misalnya untuk mengurangi karbondioksida. Melalui mesin tersebut gas dikonversi sedemikian rupa menjadi listrik.

Alhasil, multiefek pengembangan biogas dari limbah tanaman pisang oleh Arif tersebut merupakan salah satu contoh usaha pemenuhan kebutuhan bahan bakar secara mandiri dan berkelanjutan berbasiskan bahan baku dari sumber daya alam lokal.

Sumber energi biogas tersebut pada ujungnya diharapkan dapat berperan sebagai energi pengganti bahan bakar fosil sehingga bisa menurunkan impor BBM, mereduksi gas rumah kaca di atmosfer, dan mengurangi pencemar lingkungan.  agung wredho.

Diambil dari sumber Koran Jakarta hari Minggu tanggal 29 Juni 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *